Ahmad Saefulloh – Pesantren sebagai Pusat Pendidikan Berbasis Kompetensi

Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mencakup komponen pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kemandirian, kreatifitas, kesehatan, ahklak, ketaqwaan dan kewarganegaraan.

Dalam ketentuan umum Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dikemukkan bahwa; ” Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarkat, bangsa dan Negara.

Dari definisi pendidikan tersebut dapat dikemukakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia melalui proses pembelajaran dalam bentuk aktualiasasi potensi peserta didik menjadi kemampuan atau kompetensi. Kemampuan yang harus mereka miliki yaitu :
Kekuatan spiritual keagamaan atau atau nilai-nilai keagamaan yang tergambar dalam kemampuan pengendalian diri dan pembentukan kepribadian yang dapat diamalkan dalam bentuk akhlak mulia, sebagai suatu aktualisasi potensi emosional (EQ).
Kompetensi akademik sebagai aktualisasi potensi intelektuannya (IQ)
Kompetesni motorik yang dikembangkan dari potensi motorik yang dikembangkan dari potensi indrawi atau potensi fisik.

Konsep Pendidikan berbasis kompetensi ini juga dijelaskan dalam Bab II pasal 3 bahwa; ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Menurut Hall dan Jones (1976: 29) kompetensi adalah “pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur”. Kompetensi (kemampuan) lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena. itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global.

Paradigma pendidikan berbasis kompetensi menurut Wilson (2001); mencakup kurikulum, paedagogik, dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Kurikulum bersisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan paedagogik yang mencakup strategi atau metode megajar. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar yang mencakup ujian, tugas-tugas, dan pengamatan.

Implikasi penerapan pendidikan berbasis kompetensi adalah perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill. Silabus adalah acuan untuk merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran, sedangkan sistem penilaian mencakup indikator dan instrumen penilaiannya yang meliputi jenis taguhan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen. Jenis taguhan adalah sebagai bentuk ulangan dan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta didik, sedangkan bentuk instrumen terkait dengan jawaban yang harus dikerjakan oleh peserta didik, baik dalam bentuk tes maupun nontes.

Pesantren Terpadu Daaruttaqwa dalam sistem pembelajarannya sesungguhnya telah terlebih dahulu menerapkan kurkulum pendidikan berbasis kompetensi. Pembinaan santri selama 24 jam di dalam kampus, adalah serangkaian sistem dan pola asu dalam bentuk pendidikan, dimana interaksi guru, siswa, sunnah pesantren membentuk karakter anak didik dengan tujuan-tujuan kompetensi yang telah ditetapkan.

Skill atau kecakapan hidup yang terus dikembangakan dan dibina oleh para tenaga pendidikan di dalam asrama merupakan struktur kurikulum yang komprehensip dalam mengembangkan potensi santri dalam kehidupan di asrama. Sebagai contoh, pengembangan skill berbahasa asing, kemandirian, keterampilan leadership. itu semua dilaksanakan secara terpadu denan nilai-nilai dan budaya pesantren serta konsisten.

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + ten =

© 2016 Pesantren Terpadu Daarut Taqwa. All rights reserved. Developed by SmileBizMedia.